Hari sabtu kemarin, tanggal 29 Januari 2010 adalah hari yang menyenangkan bagi saya. Atas izin Allah, saya masih diberi kesempatan oleh untuk mengunjungi Gunung Kelud bersama team rombongan adventure saya, Komunikasi Mahasiswa Kediri (KOMIK). Sebenarnya travelling dan adventure adalah salah satu hobby saya. Saya suka bepergian dan menjelajahi tempat yang baru. Maka ketika seorang anggota KOMIK yang lain mengajak saya untuk pergi, saya pun setuju. Sabtu pagi, layaknya rombongan konvoi kami pergi menuju Gunung Kelud dengan mengendarai sepeda motor.
Gunung Kelud terletak di bagian ujung timur Kabupaten Kediri yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bliitar. Bahkan, wilayah Gunung Kelud bagian timur sudah masuk wilayah Kab.Blitar. Gunung Kelud terakhir kali meletus sekitar tahun 1990-an dan letusannya mengakibatkan hujan abu di wilayah eks-Karesidenan Kediri dan sekitarnya.
Kini, Gunung Kelud telah dipoles sedemikian rupa oleh Pemkab Kediri sehingga menarik wisatawan untuk berkunjung. Terlebih lagi sejak kemunculan fenomena Kubah Lava yang berwarna hijau sekitar tahun 2008. Pada tahun itu diperkirakan Gunung Kelud akan meletus. Bahkan, Pak Presiden SBY pun datang ke Gunung Kelud.
Kembali lagi ke perjalanan saya,
Setelah sekitar satu jam menempuh perjalanan dengan mengendarai sepeda motor, saya dan rombongan “KOMIK Adventure” tiba di lokasi. Sebelum masuk lokasi wisata, di gerbang utama ditarik karcis masuk Rp 1.000/orang, dan Rp 5.000/motor. Jadi, saya mengeluarkan uang Rp.6000. Huuuufhht…benar-benar tantangan untuk bisa sampai lokasi wisata. Jalannya berbelok-belok dan naik turun. Bahkan motor saya sempat tidak bisa naik keatas gara-gara saya nggak kuat dan kurang ancang-ancang. Untungnya, saya dibantu salah satu teman saya yang masih dibelakang saya untuk naik ke atas. Selanjutnya, perjalanan saya ke lokasi wisata lancar. Untuk menuju lokasi wisata yang ada diatas gunung, saya harus menaiki sepeda motor saya dengan zig-zag.
Udara segar dan dingin menyambut kami ketika kami tiba di lokasi. Untuk biaya parkir sepeda motor dua ribu rupiah. Hhmmm…. Pagi itu tak seberapa ramai, karena memang bukan hari libur. Kami lalu melihat-lihat panorama sekitar yang masih asri dan elok. Subhanallah (sekalian tafakur alam), tampak jelas betapa indahnya ciptaan Allah di alam ini. Pahatan gunung-gunung yang elok nan hijau tampak sungguh indah menunjukkan kebesaran Allah. Saya berdecak kagum sendiri dalam hati. Inilah “lukisan” yang indahnya tiada bandingannya. Setelah puas melihat pemandangan alam yang indah, saya lalu mendekat ke arena Flying Fox. Memang, sejak di rumah saya sudah merencanakan untuk mencoba flying fox setibanya di Kelud. Ini kali pertama saya mencoba permainan ini. Bagi anda yang suka tantangan yang memacu adrenalin anda, saya rasa anda perlu mencoba permainan ini. Tanpa rasa ragu dan takut, setelah membayar Rp 20.000 saya segera memakai peralatan flying. Teman-teman rombongan saya takut-takut heran, ternyata seorang saya berani juga mencoba permainan yang memacu adrenalin ini. Hoho…jangan salah yaa… tapi permainan ini sebaiknya tidak untuk yang mengidap penyakit jantung. Saya melintasi dataran tinggi yang tepat dibawah saya adalah jurang yang penuh dengan semak belukar. Sungguh dengan izin Allah, saya masih selamat diatas gantungan flying. Coba kalau tidak, saya tak tahu apa yang akan terjadi.
Dan saya, jadi ketagihan untuk ber flying ria….
Setelah saya selesai berflying ria, saya dan rombongan berjalan menyusuri terowongan gelap untuk menuju Kubah Lava yang sekarang menjadi anak Gunung Kelud. Tidak seberapa jauh sih dari area utama menuju kesana. Setelah sempat foto-foto, salah seorang kawan kami yang sudah berpengalaman mengajak kami naik ke atas gunung, ke tempat peristirahatan yang ada di puncak. Waaoooww…. Sangat jauh dan benar-benar menguras tenaga untuk mendaki kesana. Pikir saya, nih temen ngerjain saya dan yang lain. Saya rasa, lebih jauh daripada ketika saya mendaki ke Gunung Muria,Kudus-Jawa Tengah. Huuffhhtt.. tapi saya tetap menikmati dan ini menyenangkan bagi saya. Walaupun dalam perjalanan saya harus berkali-kali berhenti karena ngos-ngosan. Jantung saya berdegup kencang. Bahkan ada teman saya yang langsung kambuh sesak nafasnya. Masyallah…..
Memakan waktu kurang lebih 1jam untuk sampai puncak. Sampai disana kami segera membuka bekal makanan kami. Perut sudah sangat lapar dan minta diisi. Nasi dan sayuran digelar….lidah semakin nglier ingin segera menikmati pecel lele. Namun….ternyata seorang kawan kami yang bertugas membawa lele goreng, lupa tidak membawa lele goreng itu ke atas….lele goreng itu masih nyantol di cantolan sepeda motor. OMG…..
Alhasil, kami tidak jadi makan dan memutuskan untuk kembali turun dan makan dibawah. Memang konyol rasanya, sekuat tenaga untuk menuju puncak dengan tujuan makan bersama di puncak gunung, dan dengan harapan ketika turun ke bawah sudah dalam keadaan kenyang, ternyata sia-sia. Konyolll….konyolll… hahahaha. Tapi untungnya, saya membawa sedikit bekal dari rumah. Saya makan bersama sebagian teman. Lumayan untuk pengganjal perut sementara.
Begitu turun ke bawah, kami shalat zuhur dan makan siang bersama diiringi deras hujan yang mengguyur. Dingin-dingin, makan pecel lele bersama teman-teman sungguh nikmat rasanya. Menu yang biasa jadi luar biasa karena suasana yang akrab dan meguyub rukun. Setelah semuanya kenyang, kami kembali harus naik turun gunung lagi untuk menikmati sensasi mandi air panas sulfur di anak Sungai Bladar, kaki Gunung Kelud. Haaasshhhh….. lumayan jauh juga untuk turun ke bawah….kami harus menuruni anak tangga sekitar setengah kilo meter untuk bisa menikmati air panas belerang yang alami itu. Namun ketika kami sampai di tempat, semua lelah rasanya sirna…. Teman-teman putra segera ganti kostum dan berendam di air yang berwarna kuning itu. Kata petugas penjaganya, air sungai ini berwarna kuning karena mengandung belerang. Sementara kami yang putri cukup puas dengan mencelupkan kaki dan tangan serta cuci muka saja.
Uniknya di sungai ini, ada bagian sungai yang jernih airnya sangat dingin, sedangkan disebelahnya yang kuning airnya panas. Padahal tidak ada batas khusus antara air yang bening dengan air yang kuning, tapi dua warna air itu tetap menjaga eksistensi mereka masing-masing.
Setelah puas bermain air, pukul empat sore kami memutuskan untuk menyudahi kunjungan kami ke sungai ini. Butuh waktu setengah jam untuk sampai di atas. Seorang rekan saya, kagi-lagi harus mengolesi dadanya dengan minyak kayu putih karena asmanya kambuh…. hmmm…
Sesampai diatas, kami segera menuju parkiran sepeda motor. Kami pun meninggalkan area wisata sambil tersenyum. Petualangan plus plesir kita hari ini cukup berkesan, sobat!