Gayus Tambunan.
Pegawai Dirjen Pajak Jakarta itu akhir-akhir ini sering menghiasi media cetak dan elektronik layaknya seorang selebriti. Padahal mulanya dia orang biasa-biasa saja, dan hanya pegawai negeri sipil biasa. Sejak kasusnya mencuat, namanya diperbincangkan dimana-mana. Mulai dari anak SD yang menyebut-nyebut nama Gayus, Ibu-ibu rumah tangga, sampai tukang parkir pun ramai memperbincangkannya. Dan termasuk saya, saya juga memperbincangkan Gayus lewat tulisan ini.
Negeri kita ini sudah banyak dihuni oleh para “tikus berdasi” baik di jajaran pemerintahan atau di lembaga-lembaga yang lainnya. (Sayangnya, saya tidak tahu apakah ketika Gayus menilep uang 25 Milyar itu dia pakai dasi atau tidak
). Negeri ini resah dan gelisah. Negeri ini sudah muak dan benci dengan segala tindakan korupsi. Korupsi mengakibatkan bahaya laten yang imbasnya luar biasa bagi negeri ini kedepannya. Maka, tak heran dibentuklah Komisi Pemberantasan Korupsi alias KPK. Yang dulunya di ketuai Pak Antasari Azhar.
Memprihatinkan memang, jikalau korupsi sudah menjadi budaya di negeri ini. Budaya kita sudah dicuri Malaysia, eh sekarang malah muncul budaya yang lain lagi. Budaya itu seharusnya memberi keuntungan bersama, bukan merugikan bersama.
Tidak munafik memang, sebagai manusia yang “normal”, kita selalu tergiur dengan segepok uang di depan mata. Tak pelak bagi Gayus yang sudah dapat remunerasi, tapi masih saja ngantongin 25 M sebagai makelar kasus (markus) pajak. Saya pun tak munafik, bahwa mata saya ini juga “jelalatan” lihat uang. Akan tetapi, itu semua kembali kepada moral yang membentengi diri. Saya bukannya mengecap diri saya sebagai orang yang sudah punya benteng iman dan akhlaq yang tebal. Bukan. Saya juga bukannya mengklaim bahwa iman dan moral Gayus itu buruk. Karena sesungguhnya yang tahu dan yang bisa mengukur akhlaq dan moral seseorang hanyalah Allah. Soal korupsi, biarlah urusan Gayus dengan aparat yang berwajib dan hak prerogatif Allah di akhirat nanti untuk menghukum Gayus.
Ini terkait dengan sebagaimana syukur kita atas apa yang diberikan Allah. Allah sendiri telah berfirman, barangsiapa yang bersyukur atas nikmat Allah, Allah akan menambahnya. Dan barangsiapa yang kufur atas nikmat Allah, Sesungguhnya Allah akan menurunkan azab yang pedih. (La in syakartum la aziidannakum, wa la in kafartum, inna adzaabi lasyadiid). Sudah seharusnya, kita bersyukur atas apa yang sekarang kita terima dan kita dapatkan. Saya pribadi mungkin juga belum termasuk orang yang senantiasa bersyukur. Saya masih sering ngomel apabila ada kekurangan yang saya temukan atas apa yang saya raih. Namun saya berusaha untuk ikhlas dan legowo. Saya yakin, Allah akan selalu memberi rezeki kepada saya, apabila saya senantiasa bersyukur kepadanya. Itu yang membuat bathin saya selalu tenang dan tidak pernah takut kalau saya menderita. Allah sebaik-baik pemberi rezeki.
Kembali lagi ke Gayus,
kemunculannya di muka publik ternyata menginspirasi Bona Paputungan untuk menciptakan lagu “Andai aku jadi Gayus”. Mantan tahanan itu lalu membuat video klip dan disebar via Youtube dan akhirnya, lagu itu kini booming dimana-mana. Bona pun akhirnya diundang ke sebuah acara talkshow sebuah stasiun televisi swasta yang tayang setiap malam pukul 21.30 WIB. Lagu tersebut pun banyak diminta oleh banyak stasiun radio di negeri ini. Coba bayangkan, Bona Paputungan yang dulunya hanya mantan tahanan itu kini bisa berkreasi dan mengasah kreatifitasnya. Ia juga menjadi sosok terkenal seperti saat duo Keong Racun “Shinta-Jojo” muncul di Youtube karena lipsync video nya. Bona Paputungan pun mendapat sejumlah rupiah dari beberapa radio yang secara khusus meminta lagunya.
Di Semarang, dua orang pengamen bus dapat rejeki dadakan yang lumayan banyak ketika mereka membawakan lagu “Gayus” itu di bus sambil memakai topeng wajah Gayus. Dua orang pengamen itu mengaku dapat duit dua kali lipat lebih banyak ketika mereka menyanyikan lagu Gayus.
Sedangkan di Grup Saya, Paduan Suara Mahasiswa IAIN SUNAN AMPEL Surabaya, pada tanggal 20 Januari kemarin menyanyikan lagu Gayus itu dalam acara pengukuhan Guru Besar Bapak Prof.Dr.H.Faishal Haq,M.Ag. Banyak para tamu undangan yang tersenyum geli mendengar lagu yang kami nyanyikan. Kami senang karena para tamu merasa terhibur.
Gayus memang jahat, Gayus memang contoh yang tidak benar, Gayus memang menyebalkan, Gayus memang merugikan negeri ini. Tapi siapa sangka, dibalik kejahatan Gayus itu, ternyata Allah menurunkan rezeki??.
Dengan munculnya Gayus, Bona Paputungan menulis lagu. Lagu itu laku, Bona terkenal dan dapat uang. Pengamen yang menyanyikan lagu itu di bus juga dapat uang lebih. Inilah yang jarang kita sadari. Allah selalu memberikan hal yang tanpa diduga dibalik setiap peristiwa. Coba kalau kasus Gayus tidak diangkat. Belum tentu Bona menjadi terkenal, belum tentu pengamen di Semarang itu dapat duit dua kali lipat lebih banyak. Itu hanyalah contoh kecil saja dalam kehidupan nyata ini, bahwa Allah itu Maha Adil dalam memberikan rezekinya. Allah sudah memberikan rezeki tersendiri bagi Gayus, maka Allah juga menurunkan rezeki bagi orang lain. Jangan pernah kita berkecil hati terhadap Allah. Allah Maha Memberi rezeki kepada siapa saja yang dihendakiNya tanpa batas. Seperti yang tertuang dalam surah Al Baqoroh ayat 212:
زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَيَسْخَرُونَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ اتَّقَوْا فَوْقَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ
مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas”.
Semoga kita senantiasa dilindungi Allah dari sifat-sifat kufur dan penyakit hubbuddunya, sobat…
Wallahu a’lam bisshawab.