Sedikit saya akan tulis tentang kota yang saya kunjungi pada travelling saya kali ini. Yakni sebuah kota di Provinsi Banten, yang berbatasan langsung dengan Provinsi DKI Jakarta.
Setiap saya ada masa libur, saya selalu habiskan masa libur saya di kota ini. Ini sudah terjadi sejak beberapa tahun terakhir. Tapi sayangnya, baru kali ini saya tuliskan di blog saya ini.
Kota ini, sebenarnya sama seperti kota-kota yang pernah saya singgahi. Tidak banyak kesan menarik membekas di kota ini. Tapi saya cukup menikmati kehidupan kota pinggiran Jakarta ini.
Langsung saja yah,
Kota Tangerang punya masjid agung kebanggaan warga Kota Tangerang. Yang namanya Masjid Al Azhom. Masjid ini saya taksir kira-kira luasnya seluas Masjid Agung Kota Kediri. Malah mungkin lebih luas masjid Al Azhom sedikit. Masjid ini terletak di sebelah barat kantor Balaikota Tangerang, atau Pusat Pemerintahan Kota Tangerang yang biasa disebut warganya Puspem. Masjid ini indah lho, ketika saya ambil gambarnya dari atas gedung Balaikota dengan handphone saya.
Rugi datang jauh2 dari Surabaya, nggak pernah merasakan shalat zuhur disini. Sambil menunggui adik saya yang sedang ikut lomba vocal grup se kota Tangerang mewakili sekolahnya, saya asyik sendiri keliling Balaikota Tangerang yang sedemikian asri dan jembar nya.. kira-kira seluas Balaikota Surabaya. Pohon-pohon hijau masih berdiri tegak, bangunan yang bersih, kolam ikan dipinggir-pinggir jalan semakin membuat kawasan ini adem. Lalu saya jalan sendiri ke Masjid Al Azhom ini sendirian.
Masjid ini ternyata cantik luar dalam!. Indah.. sekali. Bagian kamar mandi dan tempat wudhu’ nya sangatlah bersih dan wangi. Ahaha.. saya jadi betah berlama-lama di kamar mandi.
Hhmm.. saya lalu mencoba makanan khas daerah sini. Salah satunya ketoprak. Penjual makanan kaki lima disini terkumpul dalam satu lokasi. Yaitu di sebelah timur masjid. Sebenarnya, saya sih ngga suka-suka amat sama makanan ini, karena dulu pernah sekali nyoba ketoprak di daerah ruko Duta Garden-Jurumudi-Tangerang, eh…ternyata rasanya ngga enak. Tapi, ketoprak yang satu ini ternyata beda lho… rasanya makkk nyyuusss…
. Menikmati santap siang sendirian di kota Tangerang ditemani angin semilir menyentuh tubuh… hhmm.. bikin ngantuk.. hheehe
Porsinya lumayan besar sih, sampai saya ngga kuat menghabiskan itu ketoprak. Satu porsi ketoprak ditambah minuman botol, saya harus merogoh Rp 11.000 dari dompet saya.. Memang sih, makanan disini relatif lebih mahal dibanding makanan di Surabaya. Beberapa waktu lalu saja, ketika saya makan di warung tenda masakan khas Jawatimur (tepatnya di daerah Batuceper-deket Masjid Darussalam), satu porsi pecel lele tanpa minum yah, saya sudah habis Rp 10.000. Mantabb kann?? Kalau di Surabaya, di warung tenda nggak sampai harga segitu.. Paling mentok Rp 7.000, itupun sudah plus minumnya.
Malam terakhir saya di kota ini, saya ditraktir makan oleh paman saya. Salah satu makanan favorit saya, yaituuu Seafood.. Udang saos Asam Manis menjadi menu santap malam saya bersama Cah Kangkung Cumi… manttaabbb
Haha.. setiap kota yang saya kunjungi, saya selalu menyempatkan diri untuk mencicipi makanan khaas daerahnya.. Namun ada satu kota yang membuat saya selalu kangen dengan masakannya, yaitu kota Solo. Solo punya banyak makanan khas yang nikmatnyyaa… subhanallah… ada Thengkleng…hhmm..nikmat, ada Timlo Solo, Sosis Solo, dst… wahh.. saya jadi ngiler nulisinnya.. Kapan2 deh, saya posting foto2 saya ketika saya di Solo beserta foto kulinernya. Siapa tahu, bisa menjadi referensi anda untuk menghabiskan liburan anda.
Sekarang tibalah saatnya saya meninggalkan Kota Tangerang, kembali menuju kehidupan saya yang sibuk melawan kerasnya hidup di Ibukota Provinsi Jawa Timur, Surabaya.



